Editor's PickHighlightsIn PictureKota JambiTop StoriesTrending

Habib Syukri: “Nyawa Warga Jambi Bukan Kelinci Percobaan! Sungai Batanghari Penuh Merkuri dan Limbah, Pansel Malah Mau Pilih Dirtek ‘Magang’?”

JAMBI, 03.12.2025 – Dewan Pembina Perkumpulan L.I.M.B.A.H. Provinsi Jambi, Habib Syukri Baraqbah, melancarkan serangan verbal yang sangat keras dan tajam terhadap Panitia Seleksi (Pansel) Direksi Perumda Tirta Mayang. Sorotan utamanya tertuju pada posisi Direktur Teknis (Dirtek), yang dinilai berpotensi diisi oleh figur “abal-abal” tanpa kompetensi mumpuni.

Dengan gaya satir yang menohok, Habib Syukri mengingatkan bahwa air baku PDAM Jambi saat ini bukan air pegunungan yang jernih, melainkan “Sup Kimia” dari Sungai Batanghari yang tercemar berat.

“Dirtek Abal-Abal Mengira Tawas Itu Bumbu Dapur?”

Habib Syukri menyindir keras jika Pansel meloloskan kandidat Dirtek yang hanya bermodal pengalaman manajemen umum tanpa latar belakang teknik lingkungan atau pengolahan air.

“Jangan sampai Pansel memilih Direktur Teknis yang membedakan Tawas (Alum) dan Kaporit saja tidak becus, apalagi mengerti dosis kimia. Apa mau nanti warga Jambi diracuni karena Dirtek-nya mengira tawas itu bumbu dapur?” sindir Habib Syukri pedas.

“Mengelola Tirta Mayang itu bukan seperti mengelola toko kelontong. Ini Hajat Hidup Orang Banyak. Kalau Dirtek-nya orang awam yang cuma cari jabatan dan fasilitas mobil dinas, lebih baik mundur sekarang sebelum mempermalukan diri sendiri saat pipa meledak atau air berubah warna jadi cokelat kopi.”

Analisa Horor: “Cocktail Racun” di Sungai Batanghari

L.I.M.B.A.H. memaparkan analisa teknis yang mengerikan terkait kondisi Sungai Batanghari. Sungai ini menerima beban pencemaran dari hulu yang luar biasa: mulai dari Residu Merkuri (Hg) akibat Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), limbah pestisida perkebunan, hingga limbah cair pabrik yang dibuang sembarangan.

“Tantangan Dirtek ke depan itu mengerikan. Sungai Batanghari sekarang isinya ‘Cocktail Racun’. Ada ancaman logam berat dari tambang emas, ada limbah industri. Ditambah lagi Perubahan Iklim yang membuat debit air tidak menentu; saat hujan banjir lumpur, saat kemarau polutan makin pekat,” papar Habib Syukri.

“Menghadapi air baku seburuk ini butuh Insinyur Kimia/Lingkungan Kelas Wahid. Butuh orang yang paham reaksi koagulasi-flokulasi saat turbidity (kekeruhan) melonjak di atas 1.000 NTU. Kalau Dirtek-nya ‘abal-abal’, pilihannya cuma dua: Air tidak mengalir atau Air mengalir tapi beracun. Pansel mau tanggung jawab kalau warga sakit ginjal massal?”

Peringatan Keras: Stop “Karpet Merah” untuk Inkompetensi!

Habib Syukri menutup pernyataannya dengan ultimatum kepada Pansel dan Pemerintah Kota Jambi. Ia menegaskan bahwa memilih Dirtek yang tidak kompeten sama saja dengan melakukan kejahatan terencana terhadap kesehatan publik.

“Kami ingatkan Pansel: Stop gelar ‘Karpet Merah’ untuk titipan politik yang buta teknis! Jangan jadikan PDAM tempat penampungan pengangguran berdasi. Kami butuh teknokrat yang siap kotor di lapangan, bukan pejabat yang takut sepatunya kena lumpur,” tegasnya.

“L.I.M.B.A.H. akan mengawasi siapa nama yang kalian loloskan. Jika terbukti sosok tersebut tidak punya sertifikasi keahlian air minum dan rekam jejak teknis, kami akan teriak paling kencang bahwa Pansel telah gagal melindungi nyawa warga Jambi.”

Penulis : Andrew Sihite – Kang Maman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *