Pesan Menohok Habib Syukri untuk Kapolda Jambi: Kibarkan Saja Bendera Putih Jika Takluk pada Borgol Plastik!
Oleh: Andrew Sihite & Kang Maman
Jambi, 6 April 2026
Gedung Mapolda Jambi, yang selama ini kita puja-puji sebagai benteng pertahanan hukum paling sakti, kokoh, dan tak tertembus seantero bumi Melayu, baru saja membuktikan kerendahan hatinya yang luar biasa. Dengan penuh keanggunan, institusi yang terhormat ini sukses mempertontonkan atraksi sulap yang niscaya akan membuat ilusionis kelas dunia menangis tersedu-sedu karena merasa gagal: menghilangkan seorang gembong narkoba pembawa 58 kilogram sabu hanya berbekal seutas cable ties alias plastik pengikat kabel seharga gorengan mendoan.
Sang tamu kehormatan Very Very Important Person (VVIP), M. Alung Ramadhan (23), tidak perlu repot-repot menyewa pasukan bersenjata atau menggali terowongan bawah tanah bak Pablo Escobar untuk kabur. Jajaran Polda Jambi yang teramat baik hati justru memberikannya fasilitas karpet merah paling mutakhir: dibiarkan duduk santai sendirian di lantai dua ruang penyidik, bermodalkan borgol plastik manja yang lebih cocok digunakan untuk mengikat kardus hajatan, tepat di sebelah gedung yang sedang dibangun. Sebuah jalan tol menuju kebebasan yang didesain dengan tingkat kejeniusan melampaui batas nalar manusia fana.
Lalu, mari kita berhitung dengan akal sehat—jika sisa akal sehat itu masih sudi mampir di Markas Polda Jambi.
Kita tidak sedang membicarakan pencurian seekor ayam. Kita sedang berbicara tentang 58.000 gram sabu. Berdasarkan kalkulasi standar, 1 gram sabu mampu menghancurkan otak dan masa depan 5 orang. Artinya, 58 kilogram racun maut ini memiliki daya ledak untuk merusak 290.000 jiwa generasi muda kita. Angka ini nyaris setara dengan separuh total populasi Kota Jambi!
Bukan hanya itu, jika benda jahanam ini dikonversi dengan harga paling minimalis di pasar gelap (Rp 1.000.000 per gram), maka nilai “limbah” yang dibawa lari oleh sang kurir mencapai angka Rp 58 Miliar, dan bisa menyentuh Rp 87 Miliar di harga tertingginya.
Ajaibnya, untuk sebuah “prestasi” membiarkan uang 87 Miliar dan 290 ribu nyawa melenggang kangkung keluar dari markas besar, Polda Jambi menjaga rahasia ini dengan ketabahan yang lebih sunyi dari kuburan Firaun. Selama enam bulan penuh (Oktober 2025 hingga April 2026), publik dininabobokan dalam ketidaktahuan yang damai, sebelum akhirnya bisul memalukan ini pecah di persidangan.
Merespons tragedi komedi operasional ini, Ketua Dewan Pembina Perkumpulan L.I.M.B.A.H Provinsi Jambi, Habib Ahmad Syukri Baraqbah, S.Hi., menyampaikan untaian kalimat yang teramat santun, penuh kasih, namun mampu menelanjangi kewibawaan institusi hingga ke tulang sumsumnya.
“Saya sungguh menghaturkan sembah sujud dan apresiasi setinggi rasi bintang di galaksi Bima Sakti kepada jajaran Polda Jambi, terkhusus kepada Yang Terhormat Bapak Kapolda, Irjen Pol Krisno H Siregar,” ucap Habib Syukri dengan senyum getir yang menyayat hati. “Dibutuhkan kecerdasan tingkat dewa dan visi intergalaksi untuk mempercayakan nasib 290 ribu nyawa anak-anak Jambi pada kekuatan seutas borgol plastik murahan. Sungguh sebuah inovasi pengamanan yang saking canggihnya, hingga logika rakyat jelata seperti kami tak mampu menjangkaunya.”
Beliau kemudian melanjutkan dengan nada yang membelai namun mematikan, “Dan mari kita berikan penghormatan luar biasa atas sanksi demosi dua tahun yang dijatuhkan kepada perwira terkait. Hukuman itu sungguh sebuah usapan kasih sayang yang teramat romantis dari institusi. Sangat sepadan rasanya; menukar hilangnya kunci jaringan sabu 87 Miliar dengan sekadar memindahkan meja kerja seorang aparat. Jika kelalaian berharga ratusan ribu nyawa saja hanya dihukum seringan hembusan angin sepoi-sepoi, maka sesungguhnya Mapolda Jambi telah sukses bertransformasi menjadi surga perlindungan paling nyaman bagi para kartel narkoba.”
“Kepada Bapak Irjen Pol Krisno H Siregar yang kami muliakan,” tutup Habib Syukri, “Kami rakyat Jambi yang hina dina ini akan dengan sukarela menggelar ronda malam dan menjaga ekosistem anak-anak kami sendiri. Sebab rupanya, bernaung di bawah payung perlindungan Mapolda Jambi saat ini jauh lebih mengerikan daripada berdiri telanjang di tengah badai petir. Silakan Bapak-Bapak tidur nyenyak di markas yang konon megah itu, biarkan kami yang menyapu ‘limbah’ dari kelalaian maha dahsyat yang kalian ciptakan.”
Perkumpulan L.I.M.B.A.H Provinsi Jambi menuntut agar sandiwara ini segera diakhiri. Tangkap kembali M. Alung Ramadhan, atau silakan kibarkan bendera putih di tiang tertinggi Mapolda Jambi sebagai tanda takluk resmi negara kepada penjual racun jalanan berbekal cable ties.
