Editor's PickFeaturedHighlightsIn PictureKota JambiTop StoriesTrending

Jenguk Institusi yang Sedang ‘Sakit Parah’, Sore Ini Habib Syukri Resepkan Dzikir dan Doa Taubat untuk Mapolda Jambi

JAMBI, 09.04.2026 – Ketika hukum dunia tampak tumpul dan institusi penjaga keamanan negara dipertanyakan kewibawaannya, rakyat Jambi memilih menempuh jalur langit.

Sore ini, Kamis (9/4/2026) pukul 15.00 WIB, Gerbang Utama Mapolda Jambi tidak hanya akan menjadi saksi bisu kemarahan warga, tetapi akan menjadi lautan manusia yang melantunkan dzikir dan selawat. Aksi damai yang dimotori oleh Aliansi Masyarakat Anti Narkoba (A.M.A.N) bersama Front Persaudaraan Islam (FPI), Perkumpulan L.I.M.B.A.H, AKBP, dan berbagai paguyuban ini membawa satu misi mulia: Menyelamatkan Jambi dari “Limbah Iblis” narkotika dan mendoakan Aparat Penegak Hukum (APH) agar segera bertaubat.

Aksi religius ini merupakan puncak keprihatinan masyarakat atas skandal lolosnya M. Alung Ramadhan, gembong narkoba pembawa 58 kilogram sabu (senilai Rp 87 Miliar), yang dibiarkan kabur dari lantai dua ruang penyidik hanya dengan seutas cable ties (borgol plastik) beberapa bulan lalu.

Habib Ahmad Syukri Baraqbah, S.Hi., selaku Koordinator Pusat A.M.A.N sekaligus tokoh penggerak FPI Jambi, menegaskan bahwa aksi sore ini bukanlah demonstrasi anarkis, melainkan sebuah teguran moral dan spiritual kepada institusi kepolisian.

“Kami datang bukan untuk melempar batu, kami datang untuk melempar doa. Ketika sistem keamanan di Mapolda Jambi bisa ditembus oleh muslihat bandar narkoba, dan ketika nurani penegak hukum hanya mengganjar kelalaian maha dahsyat ini dengan demosi 2 tahun, maka sistem manusia telah gagal. Sore ini, kita ketuk pintu langit. Kita minta Allah SWT yang langsung turun tangan membersihkan institusi ini,” tegas Habib Syukri.

Doa Hidayah untuk Penegak Hukum

Lebih lanjut, aksi sore ini akan difokuskan pada munajat dan doa bersama agar para penyidik, perwira, hingga pucuk pimpinan di Polda Jambi diberikan hidayah untuk kembali ke jalan yang lurus.

Masyarakat menyoroti ironi hilangnya empati institusi yang selama 6 bulan (Oktober 2025 – April 2026) menutupi kasus pelarian ini dari publik. Padahal, 58 kilogram sabu yang berpotensi merusak 290 ribu nyawa anak-anak Jambi bukanlah perkara yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan di internal Propam.

“Kami akan duduk bersimpuh di depan gerbang mereka. Kami mendoakan para aparat penegak hukum yang khilaf, yang mungkin hatinya sedang tertutup sehingga menukar keselamatan ratusan ribu anak bangsa dengan sanksi ringan. Semoga mereka segera diberikan hidayah, disadarkan dari kelalaiannya, dan berani bersikap ksatria dengan membuka rekaman CCTV kepada publik,” ungkap Andrew Sihite, Ketua Perkumpulan L.I.M.B.A.H Jambi.

Hal senada disampaikan oleh Alion Meisen, Ketua AKBP (Aliansi Keadilan Bersama POLRI). Menurutnya, dzikir sore ini adalah bentuk cinta rakyat kepada institusi Polri agar tidak terus-menerus dirusak oleh oknum dari dalam.

“Mendoakan aparat agar kembali tegak lurus pada kebenaran adalah wujud bela negara. Kami ingin Polda Jambi kembali menjadi pelindung rakyat, bukan pelindung aib institusi,” ujarnya.

Sore ini, selain membawa sajadah dan alat dzikir, para peserta aksi juga diinstruksikan membawa simbol berupa borgol plastik dan bendera putih. Sebuah pesan visual yang menohok: Jika polisi sudah angkat bendera putih melawan narkoba, maka biar umat yang maju menjadi perisai.

Aksi Dzikir Bersama dan Gugatan Rakyat ini dijadwalkan akan dimulai tepat setelah salat Ashar dan dipastikan akan dikawal oleh belasan media siber dan cetak se-Provinsi Jambi.

(Tim Liputan Jurnalis Koalisi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *